Meski sudah 2 pekan berlalu, pengen banget nulis tentang kesan-kesan dari Indofest 2008, the first ever Indonesian festival in Adelaide Australia.
Jika saya mengamati berita-berita ttg Indonesia di Australia seperti liputan SBS, Channel 7, nine dan ten, semuanya mirip2. Kalo bukan ttg Abubakar Basyir, pasti ttg si Trio Tenggulun terpidana mati kasus bom Bali, atau ttg kasus terpidana narkoba si Corby, atau Bali Nine. Kesannya Indonesia itu dekat ama kriminal, teroris, atau narkoba. Maklumlah media asing kan punya "pesan sponsor" yang kadng bias, dan tidak objektif.
Nah, Indonesian Festival adalah cara untuk memberikan kesan damai dan indahnya Indonesia serta untuk menjalin keakraban "people to people" antara Indonesia dan Australia. Perlu diketahui, Indonesia bukanlah negara yang asing bagi penduduk Australia. Dulu di tahun 80-an sampai 90-an, bahasa Indonesia diajarkan di sekolah dari elementary hingga secondary school. Termasuk kesenian macam gamelan dan anklung.
Kita mulai aja ya masuk ke Indofest 2008.
Pertama kita melewati gerbang festival yang diadakan di Rymill Park, tengah kota, terusan Rundle Mall.

Sorry kebetulan, pake foto pribadi, anak2ku yang lagi bobo ikutan nebeng nih. Karena tempat pelaksanaannya ditengah kota, pengunjung festival sangat banyak. Diluar dugaan kata Pak Harto, ketua panitia dan juga ketua AIA (Australian Indonesian Association).
Kalo diamat-amati, pengunjungnya kebanyakan orang-orang Adelaide, pelajar-mahasiswa Indonesia yang lagi study di sini, dan orang-orang Indonesia yang sudah menetap lama, dan malah kawin dengan orang-orang Australia.
Tak sedikit dari pelajar/mahasiswa Malaysia yang datang. Sungguh amat meriah. Sekedar Informasi, jumlah warga Indonesia di Adelaide boleh dikata masih sedikit dibandingkan dengan yang ada di Melbourne, Perth dan Sydney.
Terlihat gate penyambutan tamu di festival sangat artistik, dengan ornamen bambu, dan gazeebo yang bernuansa Bali, tropis, dan sentuhan ala pedesaan di Jawa. Sorry foto ummu Zaghi nebeng ya.
Setelah melewati gate, kita langsung menghadapi areal yang lapangan dimana panggung pertunjukkan berada di sisi kiri kita termasuk deretan kursi penonton, sisi kanan kita adalah stalls yang menghindangkan makanan khas Indonesia seperti Warung Jawa, Bali, Sunda, Manado, Sumatra, Nusantara, Timor Indonesia, dan makanan Bush tucker (khas Aussie). Di depan kita, ada stand pameran kerajinan, batik, pernak-pernik khas Indonesia, dan di sisi kanan paling luar ada demo masak dan panggung workshop untuk gamelan, dan tari2an.
Kita melihat dulu panggung utama. Karena sesaknya pengunjung, kita tak mendapatkan satupun tempat duduk. Kebanyakan malah berdiri. Terlihat pertunjukkan anklung dari siswa Montessori High School Adelaide. Mereka lagi membawakan lagu Bengawan Solo, dan kemudian salahsatu lagu the Beatles (saya lupa judulnya). Applaus dari penonton membahana seiring mereka selesai menuntaskan beberapa lagu.
Kemudian kita melewati rangkaian panjang antrian mereka yang ingin mencicipi masakan nusantara. Susah sekali berjalan apalagi bawa strollernya zaghi. Akhirnya, kita menengok dulu workshop seni yang ada. Kita agak terlambat sih. Namun belum terlalu telat. Nampak workshop tari Zaman Aceh yang dibawakan mahasiswa Indonesia.
Sambil berputar-putar melihat keramaian, perut sudah keroncongan nih. Namun alamak, antriaannya panjang banget. Ada beberapa hidangan udah sold out.
Nampak suasana di depan warung-warung Indonesia. Meja-meja penuh banget. Kalo pun pengen makan, lebih baik "merumput" aja. Seperti piknik aja. karena amat panjang, akhirnya kita jalan-jalan lagi, tengok pameran kerajinan.


Kita melihat hasil karya berupa poster tentang Indonesia dari anak-anak elementary school.
Setelah melewati pameran, kembali kita menengok panggung utama. Ada rampak gendang, kesenian dari Sunda menyihir penonton dengan kekompakan perkusi pemainnya.
Kepala dan kaki tak terasa bergoyang mengikuti irama. Asyik juga. Kalo ada jazz traditional, mungkin rampak gendang salah satunya.

Setelah sempat antri panjang, kita "berhasil" mendapatkan makanan seharga kira $7, dan lumayan enaklah maklum lapar apalagi cuaca agak dingin.
Beberapa pertunjukkan seni macam tari Topeng dari Jawa, dan satunya dari Bali, Tari Serimpi, pertunjukkan silat, lagu anak-anak Indonesia, dan dangdut, menjadi perhatian khlayak. Termasuk workshop gamelan, anklung, silat, dan tarian perang Lombok.
Festival akan ditutup jam 4 sore. Pengunjung masih cukup banyak. Indofest 2008, seakan membuktikan bahwa budaya dan seni bisa menjadi penghubung yang sangat efektif bagi kedua bangsa yang bertetangga. Hal ini terbukti dari apresiasi masyarakat Adelaide terhadap Indonesia sangat baik.
Semoga kita dapat bertemu dengan Indofest di tahun depan.